Dani's Blog

Coretan Seputar Farmasi

Benign prostatic hyperplasia

Leave a comment

Apa sih BPH itu?

BPH adalah singkatan dari Benign prostatic hyperplasia  yaitu penyebab umum dari gejala gangguan fungsi urinari pada pria usia lanjut. Benign Prostatic Hyperplasia merupakan akibat dari proliferasi pada sel stromal dan epithelial dari kelenjar prostat.

Apa penyebab BPH ?

Beberapa teori atau hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat yaitu :

  1. Teori Hormonal
  2. Teori Growth Faktor
  3. Teori Stem Cell
  4. Teori Dihidrotestosteron (DHT)

Apa gejala BPH?

Gejala yang terjadi pada pasien BPH adalah sebagai berikut :

1. Gejala pada saluran kemih bagian bawah / LUTS

Pada LUTS gejala yang timbul berupa gejala obstruktif dan iritatif

a.      Gejala Obstruktif

Gejala ini ditimbulkan karena adanya penyempitan uretra karena didesak oleh prostat yang membesar dan kegagalan otot detrusor pada kandung kemih untuk berkontraksi cukup kuat dan lama sehingga pengosongan kandung kemih terputus-putus. Gejala yang terjadi:

  1. Harus menunggu pada permulaan miksi (Hesistancy)
  2. Pancaran miksi yang lemah (weak stream)
  3. Miksi terputus (Intermittency)
  4. Menetes pada akhir miksi (Terminal dribbling)

b.      Gejala Iritatif

Gejala ini disebabkan oleh pengosongan kandung kemih/vesica urinaria yang tidak sempurna pada saat miksi/berkemih, ataupun disebabkan oleh hipersensitifitas otot detrusor karena pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada kandung kemih, sehingga kandung kemih sering berkontraksi meskipun belum penuh. Gejala yang terjadi adalah:

  1. Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency)
  2. Nokturia
  3. Miksi sulit ditahan (Urgency)
  4. Disuria (Nyeri pada waktu miksi)

Gejala-gejala tersebut diatas sering disebut sindroma prostatismus. Secara klinis derajat berat gejala prostatismus itu dibagi menjadi :

Grade I : Gejala prostatismus + sisa kencing 0-50 mL

Grade II : Gejala prostatismus + sisa kencing > 50 mL

Grade III: Retensi urin dengan sudah ada gangguan saluran kemih bagian atas + sisa urin > 150 ml.

2. Gejala pada saluran kemih bagian atas

Gejala yang timbul merupakan gejala-gejala yang ditimbulkan gejala obstruksi, yaitu: nyeri pinggang, benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari hidronefrosis), atau demam yang merupakan tanda dari infeksi atau urosepsis.

3. Gejala diluar saluran kemih

Tidak jarang pasien juga mengeluhkan mengalami hernia dan hemoroid. Hal ini dikarenakan pasien sering mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intraabdominal

Bagaimana Pengobatan BPH?

1.      Terapi non obat

Modifikasi gaya hidup yang dapat dilakukan diantaranya buang air kecil sebelum tidur, menghindari konsumsi kafein dan alkohol, pengosongan kandung kemih yang lebih sering ketika tidak sedang tidur.

2.      Terapi Obat

a. α-blockers

Semua α-blocker memiliki kemanjuran klinik yang mirip. Terapi dengan α-blocker berdasarkan  hipotesis bahwa LUTS sebagian disebabkan oleh kontraksi otot polos prostate dan leher kandung kencing yang dimediasi oleh α1-adrenergik yang menghasilkan tersumbatnya saluran kemih. Agen ini merelaksasi sfingter intrinsik uretral dan otot polos prostate namun tidak mengecilkan ukuran prostate.

Tiga generasi α-blockers telah digunakan dalam terapi BPH, namun efek antagonis pada reseptor α2-adrenergik presinaptik yang menyebabkan takikardi dan aritmia membuat generasi pertama agen ini digantikan dengan generasi kedua antagonis α1-adrenergik postsinaptik dan generasi ketiga α1-adrenergik uroselektif.

Yang termasuk kedalam generasi kedua adalah prazosin, terazosin, doxazosin dan alfuzosin. Terapi dengan obat – obat tersebut harus diawali dengan dosis rendah, untuk meningkatkan toleransi terhadap kemungkinan terjadinya efek samping seperti hipotensi ortostatik dan pening.

Jadwal  Titrasi Lambat Terazosin Jadwal  Titrasi Lebih Cepat Terazosin
1-3 hari : 1 mg menjelang tidur 1-3 hari : 1 mg menjelang tidur
4-14 hari : 2 mg menjelang tidur 4-14 hari : 2 mg menjelang tidur
2-6 minggu : 5 mg menjelang tidur 2-3 minggu : 5 mg menjelang tidur
>7 minggu : 10 mg menjelang tidur >4 minggu : 10 mg menjelang tidur

Tamsulosin adalah satu – satunya α-blocker generasi ketiga yang tersedia di Amerika. obat ini bekerja secara selektif pada reseptor α1-adrenergik prostate yang menyusun kurang lebih 70% dari reseptor adrenergic dari kelenjar prostate. Blockade pada reseptor tersebut menghasilkan relaksasi otot polos dari prostate dan kandung kemih tanpa menyebabkan relaksasi otot polos vaskuler perifer

b. 5α-reductase-inhibitors (finasteride atau dutasteride),

Merupakan obat pilihan untuk pasien dengan LUTS sedang/berat dan prostate membesar (>40 g). kedua obat tersebut menurunkan volume prostate hingga 20-30% dan memiliki kemanjuran klinik yang mirip. 5α-reductase-inhibitors dapat mencegah perkembangan BPH, meningkatkan skor gejala hingga 15% dan juga dapat menyebabkan peningkatan yang lumayan pada  aliran berkemih yaitu 1,3 – 1,6 mL/s (Rosette, et al., 2004).

1. Finasteride

Finasteride lebih efektif diberikan kepada pasien dengan prostat lebih besar dari pada 40 mL. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa finasteride secara signifikan dapat mengurangi retensi urin akut dan pembedahan pada penderita BPH. Finasteride juga mampu menurunkan tingkat PSA dalam serum (Rosette, et al., 2004).

Finasteride memiliki efek samping yang berkaitan dengan fungsi seksual. Pada sebuah penelitian, dilaporkan terjadinya efek samping penurunan libido (6,4%), impoten (8,1%), penurunan ejakulat (3,7%) dan kurang dari 1% pasien mengalami keluhan lain seperti kemerahan, pembesaran dan pelembekan payudara   (Rosette, et al., 2004).

2. Dutasteride

Dutasteride merupakan 5α-reductase-inhibitors nonselektif yang menekan isoenzin tipe 1 dan 2, dan sebagai konsekuensinya lebih cepat dan lebih efektif dalam menurunkan produksi DHT intraprostat dan tingkat DHT serum hingga 90%.

c. Kombinasi terapi α1-adrenergic antagonist dengan 5α-reductase-inhibitors

 Ideal diberikan kepada pasien dengan gejala berat, yang juga mengalami pembesaran prostat lebih dari 40 g dan tingkat PSA sedikitnya 1,4 ng/mL. kekurangan dari terapo kombinasi ini adalah meningkatnya biaya pengobatan, dan peningkatan kejadian munculnya efek yang tidak diharapkan.

3. Terapi Pembedahan

1. Transurethral Resection of the Prostate (TURP)

Menghilangkan bagian adenomatosa dari prostat yang menimbulkan obstruksi dengan menggunakan resektoskop dan elektrokauter

2. Transurethral Incision of the Prostate (TUIP)

Dilakukan terhadap penderita dengan gejala sedang sampai berat dan dengan ukuran prostat kecil (<30 gram)

3. Open Prostatectomy

Diindikasikan untuk pasien dengan prostat terlalu besar untuk dilakukan TURP karena takut penyembuhan tidak sempurna, perdarahan yang signifikan, atau risiko dilusi natremia.

4. Transurethral electrovaporization (TUVP)

Merupakan alternative lain untuk TURP khususnya untuk pasien beresiko tinggi dengan prostate kecil.

5. Laser Prostatectomy

Tekniknya antara lain Transurethral laser induced prostatectomy (TULIP) yang dilakukan dengan bantuan USG, Visual coagulative necrosis, Visual laser ablation of the prostate (VILAP), dan interstitial laser therapy.

4.      Prostatic stents

Hanya diberikan kepada pasien yang memiliki resiko tinggi, yang ditunjukkan dengan kekambuhan retensi urin sebagai alternatif kateterisasi, dan bagi mereka yang tidak dapat menjalani terapi yang lainnya

 5.      Emerging techniques

Meliputi High-intensity focused ultrasound (HIFU), chemoablation of the prostate, water induced thermotherapy (WIT) dan plasma energy in a saline environment (PlasmaKinetic®) yang hanya digunakan dalam percobaan klinis saja.

6.      Obsolete techniques

Transurethral baloon dilatation : dilakukan dengan memasukkan kateter yang dapat mendilatasi fosa prostatika dan leher kandung kemih. Dilatasi balon dan transrektal/hipertermi transurethral tidak lagi direkomendasikan untuk mengatasi BPH.

 7.      Terapi Hormonal

Terapi hormon diberikan pada pria usia pertengahan dan lanjut usia untuk mengatasi keluhan andropause. Selama pengobatan oleh dokter, testosteron diberikan dalam bentuk senyawa undarkanoat (4 mg/kapsul). Tujuan terapi hormone adalah mengontrol keseimbangan hormon testosteron sehingga dapat membantu mengatasi keluhan gangguan Prostat.

 8.      Fitoterapi

Meskipun secar luas digunakan di Eropa untuk BPH, fitoterapi dengan produk seperti saw palmetto berry (Serenoa repens), stinging nettle (Urtica dioica) dan plum africa (Pygeum africanum) harus dihindarkan. Studi terhadap herbal ini belum selesai dan kemurnian produk yang diragukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s